Profil

Nama/name : Drs. H. Husnan Bey Fananie, MA

Orang tua/parent : Drs. H. Rusdy Bey Fananie bin KH. Zainuddin Fananie (Pendiri Pondok Modern Gontor- Ponorogo, JATIM).

Ibu/mother: Hj. Kiki Zakiah binti H. Zaini Meki

Istri/wife : Deasy Indriani, SE.

Place/date of birth : Jakarta, 13 November 1967

Agama/religion : Islam

PENDIDIKAN/EDUCATION

2008   : Pendidikan Lemhannas RI, PPRA XLII 2008

1994 – 1997 : (S2) MA at the faculty of Theology and Art in INIS Master of Art Program, RijksUniversiteit Leiden, Nederland with a thesis : Modernism in Islamic Education in Indonesia and India. A case study of Pondok Modern Gontor and Aligarh.

1992 – 1993 : Faculty of Political Science, Government College, Punjab University, Lahore, Pakistan.

1990 – 1992 : (S1) History & Islamic Studies (Bachelor of Art), at University of The Punjab, Lahore Pakistan.

1989 – 1990 : English Departement (Certification), at National Institute of Modern Languages (NIML), Qu’aidi Azam Ali Jinnah University, Islamabad, Pakistan.

1986 – 1988 : Faculty of education at Institut Pendidikan Darussalam (IPD), Pondok Modern Gontor, Ponorogo, Indonesia.

1982 – 1986 : Islamic Training College (KMI) Pondok Modern Gontor, Ponorogo.

1979 – 1982 : Junior High School/ SMP Negeri IV Jakarta.

1973 – 1979 : Elementary School/ SD Negeri Kebon Manggis 08 pagi, Matraman, Jakarta Timur.

Husnan Bey Fananie bersama menteri Agama RI, Suryadharma Ali

BAHASA/LANGUAGES

Indonesia : Baik/ Good

Arabic : Cukup/ Fair

English : Cukup/ Fair

Urdu : Cukup/ Fair

Dutch : Cukup/ Fair

Husnan Bey Fananie bersama menteri Agama RI, Suryadharma Ali

PENGALAMAN DI DALAM NEGERI/EXPERIENCES IN INDONESIA

1. Teacher in Islamic Training College (KMI) Pondok Modern Gontor, Ponorogo from 1986 – 1988, with the subjects: English (Bahasa Inggris), Arabic (Bahasa Arab), Speech, Geography, World History (Sejarah Dunia), Philosophy (Filsafat), Al-Qur’an.

2. Editor of student magazine (Redaktur majalah mahasiswa) “Himmah” IPD Gontor Ponorogo, from 1986 – 1988.

3. A member of student Board (Anggota Dewan Mahasiswa DEMA) Education Intstitute of Darussalam, Gontor Ponorogo 1986 – 1988.

4. A member of Editor to the book “Napak Tilas Pengabdian KH.DR.Idham Chalid dan NU” 1998 – 1999

5. Reporter and Editor of “Daily Independent” (Harian Independen), Jakarta, 1998 – 1999

6. Reporter and Editor of “Harian Mandiri”/ “Indonesian Observer”, Jakarta, 1999.

7. Personal Assistant to The Chairman of The United Development Party (Partai Persatuan Pembangunan/ DPP-PPP) Indonesia, 1999 – 2001.

8. An Assistant to The member of Action Board of The House of People Representative (MPR/DPR) 1999 – 2002.

9. Deputy Rector to University Mathla’ul Anwar, Pandeglang, Banten, 2000.

10. (Political Party Leadership Course) “National Democratic Institue”, Jakarta, Nopember 2000.

11. The Personal Assistant to The Vice President Of The Republic of Indonesia. 2001–2004, about Education, Social, Politic, Culture, Religions and International relation.

12. Member of The Central Board to The Indonesian Muslim Intelectual Organization (Majelis Pengurus Harian ICMI Pusat), 2005 – now.

13. Secretary to The Central Board Of Expert Of The United Development Party (PPP). 2003 – 2007

14. The Chief Editor of PAKAR Magazine, 2002- 2007

15. Peserta Pendidikan Reguler Angkatan XLII (Protege of Regular Training for the 42nd Generation) of Lembaga Ketahanan Nasional (National Resilience Institute) of Republic of Indonesia, Jakarta, March-Desember 2008.

16. Ketua Umum (Chairman) Fananie Center Foundation, 2009-sekarang

17. Staf Khusus Menteri Agama RI (2010-2014)

PENGALAMAN DI LUAR NEGERI /EXPERIENCES ABROAD

1. Member of “Indonesian Muslim Student Association in Sub-Continent” from 1989 – 1992, di Lahore, Pakistan.

2. Guide and Interpreter in Hajj season at “Hajj Affairs of Indonesian Consulate Jeddah – Saudi Arabia” two periode: 1990 – 1991, in Saudi Arabia.

3. Part time Journalist to ANTARA Indonesian News Agency, from 1993 – 1995, in West European Branch at Den Haag, The Netherlands.

4. Member of Editor to “Al-Itthaad Magazine” (Young Moslem Association in Europe/Persatuan Pemuda Muslim se-Eropa), from 1993 – 1997, Den Haag, The Netherlands.

5. Chief of Editor to “Visie” Buletin, (ICMI) Indonesian Muslim Intelectual Board in The Netherlands. From 1995 – 1997, Den Haag, The Netherlands.

6. Chief of The Public Relation to ICMI in The Netherlands, from 1995 – 1997, at Den Haag, The Netherlands.

7. President of Young Muslim Association in Europe, 1994 – 1995, Den Haag, Rotterdam, Amsterdam, Leiden, The Netherlands.

8. A Speaker at The Congress of The United Indonesia Student in Europe, July 1995 at London – England

9. A Participant to “First International Conference on Islam and 21st Century”, RijksUniversiteit Leiden – The Netherlands.

10. A Participant course “Inter Consultancy Bureau” for English language at ICB Rijksuniversiteit Leiden, The Netherlands, 1994 – 1995.

11. Head of the Organizing Committee in “International Seminar Religious Plurality and Nationalism in Indonesia” 26 – 27 November 1997, Leiden – The Netherlands.

12. Represent Indonesia to International Conference “Networking Democracy: Enhancing The Role of Political Parties”, 22–29 April 2001, in The NeTherland.

13. Represent Indonesia to “NDI – CALD Workshop 2002, for Political Party Strategies to Combat Corruption”, Bangkok I, Thailand, January 14–16, 2002 and Bangkok II, tahun 2003.

14. State duty journey with The Vice President of The Republic of Indonesia as Personal Assistant and Intepreter (penerjemah) to The Midle East Countries: Sudan, Yaman, Saudi Arabia, Abu Dabi, August – September 2003.

15. As Socio-Economic Consultant for Visely tbk., Singapore 2002 – 2005

KARYA TULIS /WORKS

1. A Thesis to fulfil Master of Art (MA) in Rijkuniversiteit Leiden – The Netherlands, with the title:

“Modernism in Islamic Education in Indonesia and India. A case study of Pondok Modern Gontor and Aligarh”. Oktober 1997

2. An Empirical Studies, with the title:

“The Friday Sermon (khutbah) in The Netherlands: A Case Study of the Moluccan Mosque Bait al-Rahmân in Ridderkerk, November 1997.”

3. The Literature Collections:

a. Foot Journey, Soul, Vision, and Heart

b. Rhymes, poetries, about God and Transcendental

29 Komentar Add your own

  • 1. Agus Suparman  |  November 18, 2008 pada 8:30 am

    Assalamu’alaikum Ustadz Husnan

    Ana yang pertama buka blog antum. Nahnu jatinegara group mendo’akan semoga ustadz menjadi manusia yang berhasil. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.

    Kalo berhasil …kan… bisa bantu para sahabat alumni lainnya .. ya kan ?

    Selamat berjuang

    Wassalam

    Agus Suparman

  • 2. Thony  |  November 21, 2008 pada 8:59 am

    Ma’annajah Ustadz… Allahu ma’anna, amin

  • 3. Sholehah  |  November 21, 2008 pada 12:54 pm

    Kita dukung Ustadz, semoga berhasil.

  • 4. heryazwan  |  November 26, 2008 pada 5:45 pm

    Wah, pengalamannya seabrek-abrek.
    Bisa bahasa Urdu “pulak”
    Btw, mertua saya orang Cianjur, Ustadz.
    Saya sendiri orang Medan.
    Nanti saya promosiin deh keluarga mertua untuk milih Ustadz. Halah…
    Semoga sukses…

  • 5. heryazwan  |  November 26, 2008 pada 5:48 pm

    Saya masuk KMI tahun 1987 (tajribi), sementara Ustadz keluar IPD tahun 1988. Kok nggak ketemu ya? Wali kelas ana kelas 1 exp, Ustadz Abdurrahman Qoharudin, kelas 3exp Ust Subki Fauzi, dan kelas 5 exp Ust Sofwan Manaf. Mungkin Ustadz masih kenal mereka.
    Btw, jangan lupa beredar juga di facebook ya Ustadz

  • 6. Muhammmad martin  |  November 27, 2008 pada 2:36 pm

    Wish You All The Best Ustadz…

  • 7. AAN MUNAHAR  |  Desember 6, 2008 pada 8:46 am

    GOOD IS VERRY GOOD… SUKSES!.. Tapi ingat Sukses itu bukan hanya impian dan Imajinasi tapi adalah sikap dan tindakan yg terencana dan sistematis dgn dukungan semangat selalu.. SUKSES!

  • 8. ismet  |  Desember 7, 2008 pada 8:56 pm

    Ustadziy….ana percaya ma Antum.
    cz Antum pernah bilang di mobil jam 2 malam waktu ana antar antum ke bandara solo tentang manusia yang gila. ternyata….
    luar biasa. n ana doakan antum spy sukses n yanfa’ linnas. amin

  • 9. husnan bey fananie  |  Desember 11, 2008 pada 3:42 pm

    Assalamu’alaikum Wr Wb
    Terima kasih atas komentar, dukungan, dan do’a restu dari teman-teman.
    Semoga kita bermanfaat bagi ummat

    salam,
    HBF

  • 10. aki_baduy  |  Januari 27, 2009 pada 1:16 am

    Jangan lupakan Ferdinand Bolstraat 40
    2525xh Den Haag, tempat antum begadang buat Visie ICMI
    semoga sukses

  • 11. saiful mujib  |  Februari 7, 2009 pada 5:03 pm

    temen2 tazkia siap mendukung antum di bogor.
    saatnya “SANTRI MENUJU PARLEMEN”
    hahahaha

  • 12. Hadi  |  Februari 17, 2009 pada 3:48 pm

    ah yg bener….nih…?? Anda yakin dan ingat “promise” kepada orang-orang yg anda wakilkan …? malumaluin santri aja..

  • 13. Anwar Musadad  |  Februari 19, 2009 pada 10:26 pm

    Kami dari Agrabinta dan sekitarnya insyaAllah sudah bisa mengharapkan 8,000 pemilih untuk Kang Husnan.

  • 14. subki fauzi  |  Maret 28, 2009 pada 6:26 pm

    Ana dukung sepenuhnya ustadz, sebagai cucu pendiri Gontor masa ia kagak naik, ya ga…ya…ga ? makenye nih ikhwah-yang ada di cianjur dan kota Bogor; kang Thoat yg punya cianjur, kang Komang yg punya Bogor dyl gerakin kita punya masa mendukung cucu abah yayi Fanani Good Luck!

  • 15. Dodi Darsiyan  |  Mei 9, 2009 pada 12:45 am

    Ass.wr.wb.
    Husnan bagaimana kabar Fananie Centre? Sdh running blm?

    wass
    Dodi

  • 16. jalaludin  |  Juni 12, 2009 pada 9:20 pm

    Ass.Wr.Wb.
    Gitulah klo ada alaumni ada kemauan kita dukung.
    Bravo PM
    Perbanyak donk alumni PM yang belajar Ke Barat dan Timteng.
    Hebatnya PM kan karena itu. Jadi harus ada kirimin paling tidak 20 orang tiap tahun, 10 ke Barat 10 ke Timtang. Dongkrak tuh Menag Kita.
    Wass. Wr.Wb
    Salam Alumni 1989-1990

  • 17. Kholil Sukatma  |  September 23, 2010 pada 6:55 pm

    semoga dengan adanya FC, SWOT Kang Husnan dlm memasuki dunia politik semakin lebar dan terang benderang dapat berhasil gemilang dan sukses.
    Selamat…….
    dari : Ketua PC GPK Kab. Indramayu ( tanpa masa bhakti )

  • 18. Didy Ekarona  |  November 2, 2010 pada 12:18 pm

    Ass Wr Wb,Semoga menjadi haji mabrur deg keberangkatan tahun ini syech,Kite juga pengen brangkat tapi belum kesampaian jadi tolong doain yeh…

  • 19. Muhammad Al Mighwar, M.Ag.  |  Desember 3, 2010 pada 1:47 pm

    “Fananie Muda”

    Menyimak situs “Fananie Center” dan kiprah bang Husnan Bey Fananie yang terjun di berbagai bidang, seperti guru KMI Gontor, Dosen Mat’laul Anwar, aktivis organisasi ICMI, jurnalis, Sekpri Wapres Hamzah Haz (2001–2004), Wakil Sekjen DPP-PPP (2007-2012), dan sekarang staf khusus Menag (2010-2014) memberi kesan pada ana bahwa bang Husnan sedang “napak tilas” kiprah eyangnya, K.H. Zainuddin Fananie (1908-1967), salah satu pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) yang go international itu. Kemiripan track record (rekam jejak) sang cucu yang lahir pada tahun yang sama dengan wafatnya sang eyang (1967), nampak pada kiprah keduanya di jalur pendidikan, sosial, politik dan pemerintahan. Keduanya sama-sama keluarga Pondok Gontor yang berjuang di luar Gontor. Di antara karir sang kakek, K.H. Zainuddin Fananie, adalah: Pendiri PMDG bersama kedua saudaranya (1926), Guru di HIS (1926-1932), Tokoh Partai Serikat Islah Indonesia (PSII), School Opsziner di Bengkulu (sampai 1934), Perintis KMI PMDG bersama kedua saudaranya (1936), Consul Pengurus Besar Muhammadiyah Sumatera Selatan (1942), Kepala Penasehat Kepolisian Palembang (1942/1943), Kepala Kantor Keselamatan Rakyat di Palembang (1943/1944), Kepala Tata Usaha Kantor Sju Tjokan (1944/1945), diangkat oleh Presiden Soekarno sebagai anggota Panitia Negara Perbaikan Makanan (8/4/1953), Kepala Jawatan Bimbingan dan Perbaikan Sosial pada Kementrian Sosial untuk Jawa Barat dan Sumatera Selatan (1/8/1953), Kepala Bagian Pendidikan Umum Kementrian Sosial (19/1/1956), Kepala Kabinet Menteri Sosial (17/1/ 1959), Kepala Jawatan Pekerja Sosial (12/8/1960), anggota BPP-MPRS (hingga 1969), tetapi wafat pada 21 Juli 1967, dua tahun sebelum masa jabatannya berakhir (PMDG, 1996: 102; Abdullah Syukri, 2005: 51-56; Fananie, 2010: xiv-xvi).

    Dari track record keduanya itu dapat dikatakan bahwa dengan kapasitas genetis sang eyang sebagai orang besar dan aktifnya sang cucu dalam berbagai bidang, sebenarnya bang Husnan telah mensintesis dua teori kepemimpinan versi Bennis dan Nanus (1990: 3), yaitu The Great Man Theory (Genetic Theory) and Big Bang Theory (Social Theory), yang menyatakan, “leaders are born and bulit “. Bila Cak Nur identik dengan “Natsir Muda”, maka bang Husnan identik dengan “Fananie Muda” yang diharapkan dapat “napak tilas” karir eyangnya, bahkan melampauinya, yang bersama kedua saudaranya telah berhasil mewujudkan ide dan gagasan pendidikan modern di Pondok Gontor. Dalam pandangan Murray Butler (mantan Rektor Columbia University), orang seperti ini termasuk katagori manusia yang langka “The few who make think happen”. Lengkapnya Murray Butler menyatakan, “I devide (men in) the world into three classes. The few who make think happen; the many who watch think happen; and overwhelming majority who have no notion of what happen”.

    Tetap TRIMURTI, Bukan DWIMURTI

    Berkaitan dengan kiprah K.H. Zaenuddin Fananie sebagai pendiri PMDG bersama kedua saudaranya tercinta, K.H. Ahmad Sahal (1901-1977) dan K.H. Imam Zarkasyi (1910-1985), yang ketiganya dikenal dengan sebutan TRIMURTI, ada beberapa poin penting yang menjadi temuan sementara dari disertasi ana, antara lain:
    1.Berkaitan dengan sebutan TRIMURTI yang menggambarkan kesatuan ide, cita-cita, dan langkah perjuangan ketiga pendiri tersebut (PMDG, 1996: 40).
    Istilah TRIMURTI ternyata sudah disebut-disebut oleh ketiganya secara verbal sejak tahun 1926 (wawancara dengan guru senior PMDG, Ustadz Abdullah Rofi’i, tanggal 20/10/2010), dan secara tertulis disebutkan tahun 1934 dalam manuskrif Ibu Soekinah, salah satu murid pertama Tarbiyatul Athfal PMDG sekaligus ibunda Ustadz Abdullah Rofi’i. Manuskrip itu berjudul Dhandang Gula (salah satu jenis puisi Jawa), setebal 13 halaman, karya K.H. Ahmad Sahal, yang salah satu baitnya berbunyi: “Prabuwane dulur tunggal budi, Trimurti kang uwes, Dasar lola memeles uripe, Kang nuju ayahan ilahi, Prenca-prenca sami, Nuju mulya luhur” (Tiga bersaudara yang manunggal budi, TRIMURTI yang berwawasan luas, yang hidup tanpa ayah ibu lagi mencari belas kasihan, menuju tujuan ilahi, sama-sama berpisah, tetapi tujuanya sama-sama mulia). Secara umum, Dhandang Gula itu mengisahkan perjalanan TRIMURTI setelah menghadiri Kongres Besar Islam di Yogyakarta dan refleksi progresif TRIMURTI untuk pengembangan Pondok Gontor ke depan. Di antara poin penting dan menarik adalah K.H. Ahmad Sahal menggambarkan betapa hebatnya pidato K.H. Zainuddin Fananie di tengah Kongres itu yang disambut tepuk tangan meriah oleh para peserta Kongres, “Pidato kendel sumuh, mgo muncul ngadegke Pak Ni, Kinurmat keplok sorak, Katon jempolipun” (pidatonya berani sekali, Pak Fananie berdiri, dihormati dengan tepuk sorak, semuanya mengacungkan jempol), dan betapa visionernya K.H. Imam Zarkasyi yang bercita-cita bahwa guru-guru TA ke depan harus bergelar doktor, “Kapan-kapan gedong rampung, Kebak pranti sarto murid, gurunya doktor titelnya, mugo tujuane Zarkasyi kang wis pikantuk syahadah, terus giat ngudi ilmu” (kapan-kapan gedung (TA) selesai, penuh sarana dan murid, gurunya bertitel doktor, sebagaimana tujuannya Zarkasyi yang sudah dapat ijazah, dan terus mencari ilmu)
    2. Berkaitan dengan komentar Cak Nur (Nurcholis Madjid), “…TRIMURTI akan lebih tepat dikatakan DWIMURTI, karena peranan yang dimainkan K.H. Zainuddin Fanani dalam pengelolaan Pondok Gontor tidak begitu kongkret. Selama itu, peranan K.H. Zainuddin Fanani lebih nyata berada di luar Pondok Gontor. Hal itu ada kaitannya dengan kedudukan beliau di pemerintahan” (PMDG, 1996: 968).

    Pertanyaannya adalah apakah memang benar dengan kesibukan K.H. Zainuddin Fananie di pemerintahan membuat perannya tidak begitu kongkret dalam pengelolaan Pondok Gontor sehingga istilah DWIMURTI dianggap Cak Nur lebih tepat dibanding TRIMURTI? Komentar kritis Cak Nur tersebut dapat dijawab atau diklarifikasi dengan beberapa fakta yang merupakan bukti kongkret tentang kiprah manunggal TRIMURTI dan mnenjadika ketiganya tetap TRIMURTI. Fakta-fakta tersebut antara lain:
    (1) Pada masa Tarbiyatul Athfal (1926-1930) yang praksisnya ditangani langsung oleh K.H. Ahmad Sahal, K.H. Zainuddin Fananie yang sudah bertugas di luar pondok dan K.H. Imam Zarkasyi yang sedang belajar di Solo seringkali come back ke Gontor untuk membantu mengajar dan sharing ide dengan K.H. Ahmad Sahal untuk pengembangan Pondok Gontor ke depan. Kedatangan K.H. Zainuddin Fananie selalu dinanti-nanti oleh murid-murid TA yang sangat senang kepada beliau karena selalu menceritakan pengalaman-pengalamannya yang bermutu, unik, dan menarik. Peranan K.H. Imam Zarkasyi tidak kalang pentingnya, dalam manuskrip ibu Soekinah berjudul “Kitab Hijaiyah Karangan TA” berisikan pembelajaran Bahasa Arab dengan metode baru yang sudah sistematis yang diajarkan langsung oleh K.H. Imam Zarkasyi. Sedangkan pada masa Sullamul Muta’allimin (1932-1936), hanya K.H. Zainuddin Fananie yang sering come back ke Gontor, karena K.H. Imam Zarkasyi sudah konsentrasi studi di Padang Panjang (wawancara dengan Ustadz Abdullah Rofi’i, 20/10/2010)
    (2) Pada saat keberangkatan studi K.H. Imam Zarkasyi ke Padang Panjang, sekitar tahun 30-an, ketiganya bertemu di Bengkulu, dan bermufakat untuk membuat desain Gontor ke depan dengan pembagian tugas masing-masing: K.H. Ahmad Sahal kembali ke Gontor untuk melanjutkan rintisan Pondok, K.H. Zainuddin Fananie tetap berada di Bengkulu untuk berdakwah, meluaskan wawasan dan menggali dana, sedangkan K.H. Imam Zarkasyi melanjutkan studi dan mencari format Pendidikan Pondok Pesantren Modern (Suharto, 2008: 20). Selanjutnya, pertemuan intensif ketiganya sering dilakukan di berbagai tempat dan kesempatan. Misalnya, dokumen-dokumen foto PMDG (1996: 36-37 &110) menunjukkan: tahun 1931 K.H. Zainuddin Fananie sedang berkunjung dan berfoto bersama K.H. Imam Zarkasyi dan keluarga Mahmud Yunus di Sumatera Thawalib dan Noormal Islam; tahun 1963 K.H. Zainuddin Fananie sedang berfoto bersama anggota Dewan Kurator Perguruan Tinggi Darussalam Gontor (sekarang ISID) setelah rapat di rumah kediaman beliau; tahun 1964 K.H. Zainuddin Fananie berfoto bersama anggota IKPM setelah Mubes IV IKPM di Jakarta.
    (3) Dalam manuskrif lainnya milik Ibu Soekinah juga tertulis draft Anggaran Dasar (statuten) Tarbiyatul Athfal (TA) Pondok Gontor, tertanggal 5 Mei 1932, yang dikonsep oleh K.H. Zainuddin Fanaie di Pagar Alam Bengkulu atas kesepakatan kedua saudaranya. Judul draft Anggaran Dasar TA tersebut berbunyi “Begensel Verklaring TA: Rancangan atawa Ringkasan Begensel Verklaring Tarbiyatul Athfal Ponorogo (Kang luwih terang ngenteni statute hus de lijik Reglimetra sadulur Fanani). Pagar Alam”. Draft Anggaran Dasar TA tersebut mendeskripsikan banyak hal, dari mulai latar belakang kondisi sosial, ekonomi dan politik pendirian Pondok Gontor sampai cita-cita ke depan termasuk ide awal sintesa Pondok Gontor. Dalam “Bab Piwulang” disebutkan, “Gelenge delengen: Al Azhar: carane wulang lan didike. T.A. iku blegudeg: umpamane: Taman Siswa: sebb berdreipeng system; Tagore: mengku didiken lan praktek; Montessori: klasikal; Dalton: rekating piwulang lan kesabaran” (Secara global lihatlah: Al Azhar, dengan caranya mengajar dan mendidik. TA itu seperti gado-gado, umpamanyanya: Taman Siswa, dengan sistem kemandiriannya; Tagore (pendiri Shantiniketan), dengan pendidikan dan prakteknya; Montessori, dengan sistem klasikalnya; Dalton, dengan kecepatan mengajar dan kesabarannya). Konsep awal K.H. Zainuddin Fananie tentang sintesa tersebut yang kemudian menjadi sintesa Pondok Gontor, yaitu Al Azhar, Syanggit, Aligarh, dan Shantiniketan, dibenarkan oleh K.H. Abdullah Syukri Zarkasyi yang juga pernah comparative study ke sana beberapa kali (wawancara tanggal 10 Oktober 2010);
    (4) K.H. Zainuddin Fanani yang dibantu oleh K.H. Imam Zarkasyi menyusun tiga buku yang excellent pada zamannya: Senjata Penganjoer, Pedoman Pendidikan Modern (1934) dan Pedoman Penangkis Crisis (1935). Ketiga buku tersebut merupakan kerangka konseptual dari modernisasi pendidikan di Gontor (Fananie, 2010: xviii), yang praksisnya telah diawali oleh Kyai Ahmad Sahal sejak tahun 1926, meskipun belum sempurna, sebagaimana tampak pada berbagai kegiatan pendidikan yang mengandung unsur-unsur modernitas, seperti sistem pengajaran klasikal, pendidikan jasmani, kesenian, pelajaran umum, dan organisasi (Abdullah Syukri, 2005: 53-54). Buku Pedoman Pendidikan Modern menjadi landasan filosofis untuk buku Diktat Khutbatuh al-Iftitah dalam Pekan Perkenalan yang wajib dibaca oleh setiap santri Gontor. Mutu kandungan ketiga buku tersebut dan penulisnya diapresiasi oleh Prof. Dr. Din Syamsuddin (Tasirun Sulaiman, 2009: 14-15),
    “Membaca judul “krisis” akan menyentak kesadaran kita betapa
    Trimurti, khususnya alm. K.H. Zaenuddin Fananie, satu-satunya
    pendiri Gontor yang merasakan pendidikan modern pada zaman
    Blanda dan juga aktif dalam pergerakan, telah memiliki lompatan
    pikiran yang sangat jauh ke depan. saat itu, tahun 30-an, tapi alm.
    K.H. Zaenuddin Fananie telah mampu berpikir sangat maju. Pikiran-
    pikiran beliau dapat dilihat dalam bukunya yang sangat populer dan
    berpengaruh saat itu, yakni Senjata Penganjoer dan Penangkal
    Krisis. Juga ada buku lain yang tidak kalah hebat adalah Pedoman
    Pendidikan Modern. Dari ketiga buku itulah, sesungguhnya kita bisa
    melacak jejak sejarah kemoderernan Pondok Gontor juga kearifan
    Gontor. Kita bisa membayangkan situasi pada saat itu, yakni masa
    penjajahan Belanda yang sangat sulit, tapi beliau sudah bisa
    menangkap tanda-tanda zamannya lalu sanggup merespons masa
    depan dengan cerdas dan arif!”
    (5) Pada tanggal 12 Oktober 1958, K.H. Zainuddin Fananie bersama kedua saudaranya mewakafkan Pondok Gontor yang sedang maju-majunya kepada umat Islam yang diwakili oleh 15 anggota IKPM yang terpercaya sebagai nadzir. Dengan perwakafan tersebut berarti PMDG bukan lagi hak milik pribadi pendiri secara turun temurun, demi kepentingan Islam, umat dan pendidikannya, meninggikan agama Allah, li’ilai kalimatillah, sebagaimana tercantum dalam Piagam Penyerahan Wakaf PMDG (Sekretaris PMDG,1995: 1-26; Nur Hadi Ihsan, 2006: 23-24). Dalam pewakafan tersebut TRIMURTI merujuk pada firman Allah Swt., “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata, “(Dan saya mohon juga) dari anak keturunanku”. Allah berfirman, “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang zalim” (QS. Al-Baqarah: 124). Seandainya TRIMURTI tidak memiliki jiwa keikhlasan yang tinggi, tidak mungkin pewakafan itu dilakukan, apalagi kondisi Pondok Gontor saat itu sedang maju-majunya sementara pondok-pondok lain masih memegang kuat tradisi bahwa pondok itu milik kyai dan keturunannya.
    3. dan poin penting serta fakta lainnya yang tidak mungkin memadai untuk disebutkan di sini.

    Demikian, wallahu a’lama ma a’lamu wa ma la a’lamu, ‘asa an yahdiyani rabbi li aqruba min hadza rasyada.

    Muhammad Al Mighwar
    081312772982

  • 20. samsi  |  Mei 22, 2011 pada 9:57 am

    Pa apakah benar bapak telah bersedia untuk menjadi pembina di PKBM”BERLIAN”
    Terima kasih

  • 21. samsi  |  Mei 30, 2011 pada 3:32 pm

    Bapak Fananie menurut saya is the best

  • 22. Marsel/Skretaris DPC PPP Tanah Datar  |  Juni 3, 2011 pada 6:06 pm

    Ass Pak, Saya Marsel dari Batusangkar, Mendo’kan Bapak Semoga Sukses di Muktamar di Bandung besok nantinya, amien. wass

  • 23. Darussalam  |  Juni 18, 2011 pada 1:09 pm

    maju terus ust…hidup PPP…( mari satukan DPD PPP DEPOK )….2014…Siap tempur ust…

  • 24. Yudhi Ganteng  |  Agustus 17, 2011 pada 11:45 pm

    ass bung,alhamdulillah rezeki ente bagus,jgn lupa sm temen dr den haag ja

  • 25. opik  |  November 1, 2011 pada 1:07 am

    nebeng koment ahhh.. suxesss slaluu.. :)

  • 26. syarhil el kordhoby  |  November 26, 2011 pada 9:43 am

    sukses trus …
    berjuang trus ,,,,,
    kami siap mendukung ust …

  • 27. Anding Sukiman  |  Januari 26, 2012 pada 7:57 pm

    Assalamu alaikum Pak Husnan, apa kabar n ich, berkali-kali sy telp tidak terangkat dan sy sms gak dibalas pula , tapi sayakin karena kesibukan bapak sampai akhirnya tdk sempat menjawab sms saya. doa sy semoga bapak sukses selalu. Saya sebenarnya mau kirim CD hasil seminar pemberdayaan masjid di Wonogiri tanggl 27 Nopember itu pak.

  • 28. Minha Bgr  |  Februari 27, 2012 pada 3:54 pm

    ass……ust ana temennya yayan, an raja yg ktumu dpernikahan adenya d pondok gede smoga slalu sukses n kapan ngadain meeting lagi ust

  • 29. muhamad wajdi  |  Mei 25, 2012 pada 7:38 pm

    USTAT ANTUM INGAT USTAT HASANAIN JUAINI?

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.