Puisi
DARI DEN HAAG….AKU BERSILATURAHMI
Dingin menggigit tanpa ragu, menghempas kesunyian pagi,
kala Surya dipenghujung 10 Syawal yang dilewati…….
memberi sebuah arti dari ramahnya silaturahmi.
Semua bergegas menghampiri seruni dipagi ini.
Semua tersenyum dengan lekatnya corak gaun yang rapi.
Kulihat biru yang anggun, dengan kerudung tanpa malu-malu.
Kupandangi panjangnya merah-jambu dengan menyebut namaMu ya…Allah.
Kutersentak ketika yang hijau menyapaku dengan salam.
Aku hampir tak percaya ketika kharisma putih mengajakku bicara.
Dingin menggigit tanpa ragu, menghempas kesunyian pagi,
sinarmu Surya,” memanggil semua hati untuk bertakbir.
cahayamu Surya,” mengajak semua jiwa untuk berzikir.
Aku tahu……kau diam dengan makna kedalaman berfikir.
Dari Den Haag aku datang…..juga dia, kamu, kalian dan mereka,…. semua menyambut perayaan besar silaturahmi.
Ada nyanyian, ada pujian….,ada ayat-ayat suci, ada syair puisi….,ada lakon, ada cerita dan ada dagelan.
Semua berkumpul tanpa harus tahu siapa dimuka dan siapa disamping.
Dari Den haag aku bersilaturahmi…kesebuah tempat untuk berzikir kepadaMU.
Amsterdam, 10 Syawal 1415 H/12 Maret 1995
Husnan Bey Fananie
TERBANGLAH…..RAJAWALIKU !
Kau terbang membentang sayap…..membawa harapan dari semua jenismu.
Bulu-bulumu sehalus rasaku….
Kuku-kukumu, setajam semangatku….
Paruhmu, pengucap jiwaku….
Tak perduli buih….,tak perduli ombak….
Tak perduli angin….,kau terjang bersama matahari,
Kau bebas bersama sukma dan nalurimu….
Kau bebas melihat darah dan derita dibawahmu.
Den Haag, 30 September 1993
Husnan Bey Fananie
ANTARA DEN HAAG DAN VALKENBURG
Aku tahu bahwa aku tidak tahu tentang……….
Centi, Meter, Mile jarakmu, jarak yang Kau buat dan kutau.
Kau yang memberi, mencipta dan menguasai bumi ini….
Kau yang tahu atas semua yang ada dan yang melata di atas bumi ini….
Air….air….
Di dekatku berangkat dari sekitar yang kutahu sebentar dan sekitarmu Den Haag….
Kucoba mengerti tentang apa yang ada setelah itu….
Aku tahu itu bukan dan belum sampai atau lebih dari Maashtricht….
Aku tahu itu bukan dan memang bukan Mataram….
Aku tahu juga, bahwa orang banyak menuju tempat yang Kau cipta
benua putih yang aneh dan indah….
Antara Den Haag dan Maashtrich….
Kau bawa aku dan beberapa hambaMu ke Valkenburg….
Warna-warni yang ceria, tawa canda beberapa kurcaci mengiringi
hati-hati bersih yang ingin mencari tahu tentang tanah itu….
Valkenburg, Kau cipta untuk aku juga datang dan menginjak tanahMU….
Valkenburg, Kau cipta untuk aku menguak misteri dan peradaban 1000 abad yang lampau….
Valkenburg, ku tahu di mana baratmu dan timurmu….
Tapi biar kau tahu bahwa orang timur yang kuningpun bisa mentertawaimu….
bahwa kau bukan Holy land….yang kutuju….
bahwa kau bukan Yerussalem yang kuimpi….
bahwa kau bukan Kediri, Surabaya, Bandung, atau Jakarta….
Tapi ingat bahwa batumu tetap suci dan tak berdosa….
Kau memang menyenangkan dan indah, dari bukitmu yang hijau dan berbatu….
tapi tetap aku akan rindu….
ya….rindu atas keselamatan yang Kuasa antara Den Haag dan Valkenburg….
Valkenburg – Den Haag, 4 April 1994
Husnan Bey Fananie
PEMBERIANMU……………….KASIH
Ketika kucoba untuk merangkak pelan,
Kau beri kekuatanMu.
Ketika hari-hariku penuh dengan was-was,
Kau beri senyumMu yang indah.
Ketika hatiku galau dengan dunia warni-warni,
Kau tarik tanganku untuk Kau hibur dengan kebesaranMu.
Ketika aku terjepit dari pedang wangi di bawah hidungku,
Kau beri senjataMu di jiwaku.
PemberianMu Kasih……..bukan yang lain.
Hanya Kau Kasih……..tidak yang lain.
SenyumMu Kasih…….hanya yang abadi.
Kau kekal, walau aku hilang dari ramainya masa.
Kau kekal, walau aku punah ditelan tanah.
Mega hilang tanpa ada pelangi, bayu menerjang semua yang hijau, biru langit walau matahari membakar………
Kau beri mereka hidup di samudra.
Kau beri semua yang melata untuk mengabdi.
Oh…….mereka terkadang lupa…….ya…….
lupa dengan statusMu……
lupa dengan dengan pemberianMu……..
Entah apalagi yang harus kuberikan untukMu Kasih,
sedangkan Kau tak butuh atas semua pemberianku.
Entah apalagi yang harus kupersembahkan Kasih,
sedangkan Kau yang memberiku rasa dan cinta.
Aku hanya butuh Kau kasih……..
dengan semua senyumku yang terindah.
Husnan Bey Fananie
Islamabad, 11 July 1993
NEGERI DI ATAS NEGERI
Hijau bukit berjajar membawa pesona
pesona alam dari negeri yang bercerita tentang lugunya
orang berbaju panjang.
Persis dengan panjangnya waktu untuk menunggu,
persis dengan panjang janji untuk ditepati.
Peradaban mulai terlihat tanpa malu-malu,
peradaban mulai tersenyum dengan datangnya para pembesar dari negeri tersebar.
Cantik negeri digincu……………………………………………………………….
Cantik negeri dipupur……………………………………………………………….
Cantik negeri dibelai…………………………………………………………………
Satu……..satu………negeri muncul dari sebuah negeri yang bercerita tentang orang yang berkelahi dengan Brahma atau Rama atau…………..Bharata Raya.
Tentu bukan negeri yang berkelahi dengan Gatot kaca, atau Arjuna atau Semar yang selalu sujud di bawah kubah masjid Besar.
Oh………….rindunya hati yang terpisah oleh luasnya Samudra,
luasnya benua yang terlihat bagai Roti bundar dari gandum.
Oh………….rindunya hati yang bergetar setiap memandang dua warna.
Oh………….rindunya hati setiap menapak negeri di atas negeri………..
……….ya negeri di atas negeri dengan seorang pembesar disana.
Kurawa dan Kurcaci memandang dengan senyum ceria, atau simungil yang berlari dengan pandangan penuh arti dari sebuah generasi.
Bermacam suara yang muncul dari tempat perhelatan, ada……..Gong……atau Tabuh…….atau Rebana dengan suara halus tentang pujian kepada Sang Kuasa…………… Entah hari apa………..pada setiap akhir pekan, meditasi berjama’ah mengingat Surau di kampung halaman.
Negeri di atas negeri……..yang megah dan hijau dengan sayuran bayam dan kacang.
Negeri di atas negeri…….yang ramah dengan senyum berbagai pesisir dari beribu kepulauan.
Negeri di atas negeri………..dari negeri yang berevolusi dengan jiwa dan darah.
Negeri di atas negeri………..yang berada di negeri orang berbaju yang panjang…….!
Husnan Bey Fananie
Islamabad, 11 July 1993.
ARTI SEBUAH PERTEMUAN
Nilai berapa yang harus diberikan pada setiap insan yang mengaku beradab.
Panjang masa untuk mengerti dari hati yang suci atau murni tanpa benci.
Kata orang dari mata turun kehati dengan jantung berdetak kencang, tegang mengartikan suatu jenjang pengesahan diri.
Entah Melati, Mawar, atau Flamboyan, yang cocok untuk sebuah lambang dari harga sebuah senyum manis.
Dalam nada major mereka bernyanyi dari sebuah prosa kehidupan insani.
Tanpa ragu-ragu mereka berkumpul dalam satu pertemuan.
Mungkin pertemuan untuk berpisah, mungkin pertemuan untuk memandang sang Flamboyan dengan senyum termanis.
Ada Badut, ada Petruk,………………………eh ada juga jagoan kampung yang berlaga.
Ada Terompet, ada Piano,……………………….eh ada juga Perkusi Cina dari Zaman Minq.
Pasti sang Primadona yang ditunggu……………………………..!, ditunggu oleh harga para insan yang diam, mungkin karena bingung atau malu.
Saudara-saudara……………………………………….andalah sang Flamboyan, bukan bunga Bangkai yang jarang.
Hanya ada satu senyum yang berarti untuk sebuah pertemuan……………………………….
ya andalah wahai Bunga.
Husnan Bey Fananie
Islamabad, 13 July 1993.
NAFAS DUNIA
Terjaga pada sebuah tidur panjang perjalanan nafas dunia.
Gerak langkah tak perduli bayu dan deburan ombak.
Perjalanan beberapa perantau melayu di Belahan Benua.
Bukan pendekar Dewi Cinta atau Brahma Kumbara di Radio Ponorogo.
Bukan juga pembesar garang di sebuah kedutaan.
Banyak hasil yang diberikan untuk sebuah Bangsa besar.
Perawakan sendu memandang dengan malu-malu, gerak lambat yang berwibawa.
Panjang kain untuk ditebar pada sebuah tatal-tatal kemandirian.
Besar hati untuk menahan pedih berkepanjangan.
Salam dan keselamatan diharapkan untuk penentuan jati diri.
Garang membawa hati sejuk dan terbuka.
Bukan pendekar Dewi Cinta atau Brahma Kumbara di Radio Ponorogo.
HB Fananie
Leiden, 10 Desember 1997
DATARAN RATA DAN SENYUM SELATAN
Dataran rata yang kau tata dengan prakata yang penuh dengan pandangan mata terjajar.
Detik, Menit, Jam dan hari tertutup kabut Eropa, menunggu Sinar Mentari.
Menanti………………..sebuah arti dari Perhelatan.
Menanti………………..sebuah gerak kenikmatan.
Manyar, SeaGul, dan Gagak selalu tertawa diMuka jendelamu yang kusam.
Barat, Timur dan Utara selalu membingungkan dalam sebuah penantian angin Selatan.
Bayang-bayang itu lepas dengan sebuah perhelatan bertaraf Dunia.
Ya……………….Pertemuan dari semua yang datang pada dataran rata Laut Utara.
Hari-haripun kembali bersinar
Hari-haripun penuh dengan pelepasan
Hari-haripun penuh dengan kenikmatan.
Kenikmatan yang tak bisa dirasakan oleh Manyar, SeaGul, dan Gagak yang tertawa dimuka jendelamu yang kusam.
Kenikmatan yang tertunggu dan tertunda untuk dirasakan bersama dengan sebuah senyum dari Selatan.
Senyum Selatan yang merekah di Dataran Rata.
HB Fananie
Leiden, 10 Desember 1997
Refleksiku
Kutundukkan wajahku sejajar dengan hamba-hambamu yang berbuat nista……..
Kutekuk lututku segaris selintas dengan ciptaanMu yang bersahaja………
Kusandarkan tengkukku didinding dingin dirumahMu nan suci…….
Perjalananku bersama hamba-hambaMu di Bumi yang kukotori sendiri……….
Bukan berarti aku ingin memiliki bumiMu………
Bukan berarti aku lebih tau kebesaranMU………
Bukan berarti aku ingin menguasai hambaMu yang lain………….
Ketika SinarMu menerangi ruang-ruang relungku……….
Aku malu dengan tumpukan pasir dosaku,
Aku malu dengan juluran tanganMu,
Aku malu dengan wajahku yang penuh cacat.
Ketika Kau tunjukkan apiMu nan dahsyat………
Tak kuasa aku memandangnya,
Tak ingin aku ikut bersama hambaMu yang nista
Hanya Engkau yang tau setiap nafasku, hanya Engkau yang tau setiap tetes darahku.
Pasrahku kepadaMu yang membuat perjumpaanku denganMu…………
Temuilah aku dengan semua dosa-dosaku.
Husnan Bey Fananie
‘S-Gravenhaag, 25 Oktober 1996
Rindu Matahari
Hari ini gelap, dingin, dan berkabut……….
Hari ini Matahari kutunggu untuk bersinar……
Hari ini Matahari kutunggu untuk menyapa……
Hari ini dan juga kemarin aku rindu sinar senyummu…….
Pengembaraan yang tak kunjung habis………
masih memberi harapan dari seorang anak negeri.
Ya…………..Bukan Negeri dari orang berbaju panjang.
Masih kutunggu……., dan kutunggu sapamu……..
Sekali lagi aku rindu kau Matahari…………..
Sekali lagi aku rindu sinar senyummu.
Husnan Bey Fananie
‘S-Gravenhaag, 30 Oktober 1996
Ranahku, Kasihku
Suatu hari aku datang kesebuah pulau yang tentu tak asing bagiku………..
Pulau itu menyimpan sebuah sejarah panjang perjalanan bangsaku……….
Tak terhitung berapa jumlah cerdik cendikia yang dihasilkan oleh tanah pulau itu,
Tak terhitung berapa jumlah manusia yang berkelana dari tanah pulau itu,
Tak terhitung berapa jumlah bangsawan yang lahir dari air di pulau itu,
Tak terhitung berapa jumlah kekuatan rohani yang tersebar untuk bangsaku.
Putihnya buih disepanjang pantai mengingatkanku pada kakek dan nenekku……
Mereka pernah menjalin kasih dengan suasana romantis dan penuh syair cinta……
Mereka pernah meninggikan derajatnya hingga terlahirlah ayahku dan aku sendiri….
Barisan bukit yang terjajar dari Utara hingga Selatan menjadi saksi utuh keberadaan mereka.
Adat yang dikembangkan mengingatkanku pada puisi-puisi lama yang merubah hidup.
Legenda-legenda tua yang tertuang di pulau itu segera menyadarkanku.
Bahwa, pulau itu memiliki lebih dari apa yang aku dan mereka tau…………
Bahwa, pulau itu telah menanggung beban dari sebagian besar kebutuhan negeri ini
Bahwa, rakyat yang ada di pulau itu masih banyak yang hidup tanpa kelayakan…….
Bahwa, kayu, dahan, ranting dan daun……tergerai tanpa makna yang berarti…..
Bahwa, bukit, gunung, dataran dan lembah……hanya indah untuk orang asing…..
Bahwa, bakau, karang, dan bermacam jenis ikan hanya untuk hari ini dan esok lusa….
Menangiskah aku…mendengar jeritan si Buyung dan si Upik yang berteriak lapar di tengah-tengah lumbung padi?
Bergetarkah aku …..melihat para nelayan miskin yang tak terubahkan nasibnya?
Ohhhhh………akhk…….akhk…..akhk…..tiba-tiba aku tersesak dengan kepulan asap hutan-hutan hijau yang di bakar untuk kesenangan orang-orang asing itu !!!!
Jantungku pun berdetak kencang………..dag…….dig…….dug……..deg………dog….
Seakan semua terkejut dengan tertawanya pembesar-pembesar yang hanya diam karena sudah maklum dengan hasil ganda mereka dari hutan-hutan yang dibakar.
Terseret-seret dengan luka bakar di kakiku yang mungkin juga di hatiku…….
Ku coba menyelusuri lagi jalan-jalan pantai yang konon kabarnya perjalanan asmara kakekku dan nenekku dengan ribuan cinta yang mengelilinginya saat itu.
Maka aku pun lupa dengan nelayan-nelayan itu,……si Buyung dan si Upik itu,…….bahkan dengan hutan ranahku yang terbakar disana.
Mesra…..dengan hati yang penuh dengan Mawar, Melati, Anggrek, bahkan Tulip dan Diesy pun dapat mekar tanpa malu-malu… menemani sejoli yang sedang kasmaran.
Semua menjadi saksi keberadaan atas harapan-harapan……………………………….
Ya harapan anak cucu dari kakek dan nenekku ketika mereka membasahkan kaki dengan buih ombak di sepanjang pesisir.
Riuh rendah suara anak-anak dan orang ranah itu memberi dukungan kepada datuk-datuk mereka menjadi wakil dari harapan-harapan yang pernah ditinggalkan.
Semua bercampur, semua terasa tak jujur, semua menjadi gila akan kebenaran.
Kebenaran yang tak pernah terasa benar,
Kebenaran yang selalu dibungkus kebohongan,
Kebenaran yang hanya diketahui oleh orang-orang yang memiliki cinta,
Kebenaran yang hanya diketahui ketika bulan purnama penuh.
Aku pun heran………tiba-tiba ada rasa kasih yang muncul dari semua itu, kasih yang tak pernah kurasakan, kasih yang kudapat setelah sekian lama tak mendengar cerita tentang kakek dan nenekku.
Semoga aku tak salah, menulis sebuah cerita tentang legenda yang pernah ada di ranah itu……..entah Siti Nurbaya, entah Malin Kundang, entah Mande Rabi’ah.
Senyum yang melegenda itu kini muncul lagi dihadapan mataku, senyum itu membawaku berangan-angan untuk menjelajahi lebih jauh kedalam rimba pulau yang kudatangi.
Kemegahan yang pernah kulihat dari yang kutahu selama ini telah memberikan makna lain setelah kucoba untuk ikut menyelusuri perjalanan dan berkenalan dengan kehidupan ranah leluhurku.
Aku sendiri tak yakin bahwa aku dapat menjadi orang ranah itu, namun aku ikut iba dengan semua yang kulihat dari ketidak pedulian orang-orang ranah itu, mereka yang jauh atau lupa dari mata air tempat mereka mandi ketika kecil.
Kini……..aku ingin ikut merasakan kepedihan yang menjadi awal dari masa depan pencerahan rakyat dan sanak familiku di ranah ini.
Ku mohon kepada yang Kuasa………agar Sinar Rahmatnya tercurah lebih ke pulau itu.
Ku mohon kepada yang Kuasa………agar Aliran Berkahnya mengairi tanah itu.
Ku mohon kepada yang Kuasa………agar Hembusan Kebahagiaan tersebar untuknya.
Ku mohon kepada yang Kuasa……..agar rasa kasihku pun ikhlas dan kekal disana.
Peradaban sedang mencatat awal dari legenda yang hampir ditinggalkan.
Peradaban sedang menanti anak, cucu dari kakek dan nenekku.
Bagai seorang kekasih yang datang dan pergi.
Kekasih dengan penuh curahan hati.
Kekasih yang ditunggu.
Penuh Pesona
Keikhlasan.
Husnan Bey Fananie
Jakarta, 25 Maret 2000
Budi Tidurlah Dengan Tenang
Budi kawanku……..
Terkadang lusuh, terkadang klimis, terkadang sok tahu…….
Hari-hari menyendiri relung hatinya…..yang mungkin kosong tanpa sebuah hati.
Kelakuan baik tetap tercermin dari senyumnya yang juga terkadang sepet.
Budi kawanku……..
Aku tahu kau memilliki semua apa yang banyak diharapkan oleh banyak orang,
Aku tahu kau sedikit cerewet namun penuh dengan arti beribu bahasa,
Aku tahu tentang yang aku tidak tahu dari perbuatan-perbuatanmu yang cukup menggelora.
Budi kawanku……..
Kau perlu ingat…………bahwa langit tak selalu mendung atau cerah,
Kau perlu ingat…………bahwa hujan tidak selalu membawa petaka banjir dan kesedihan.
Tersenyumlah dengan semangatmu yang tetap menyala bagaikan bara di bukit Manoreh.
Partai demi partai sebuah kehidupan perlu kau telaah lagi dengan fikiran jernih…….
Sejernih mata air yang pernah kau temui di sebuah tempat peraduan malam yang pekat.
Jejak-jejak manusia yang pernah terlintas di hadapan mukamu…….perlu kau tapaki dengan kemurnian hati suci
Aku percaya………kau pun memilikinya.
Percayalah Budi kau masih yang terbaik dari sebagian orang yang pernah kau sesali.
Seperangkat alat untuk menuju kesuksesan yang kau tunggu hanya ada pada relung yang terdalam dari bagian tubuhmu.
Budi kawanku………………………………..selalulah tidur dengan tenang!!!!!!!!!!!
Husnan Bey Fananie
Bekasi, 25 Maret 2000
Surat Buat Suhijjriah
Assalamu’alaikum
Perjalanan hidup dari seorang anak manusia tentu tidak selalu menyenangkan.
Perawakan hidup tenang dapat dicari dengan ketenangan menyelami Tuhanmu.
Permukaan gerak akan tercermin dari kerasnya watak yang kau tampakkan.
Perpaduan nilai kau dapat dengan keberanianmu menjalani kerasnya hidup ini.
Gangguan yang kau akan dapat segera………..seperti banyak menggoncangkan perjalananmu menuju sebuah awan yang tertinggi.
Mungkin itu bahaya laten dari kebanyakan pria muda…………….wanita.
Mungkin itu bahaya laten dari hal yang menggiurkan dari……………..kekayaan dunia.
Mungkin itu bahaya laten dari kedudukan yang mengasyikkan………….jabatan.
Rajawali akan selalu memiliki ketajaman mata dalam menggapai sasarannya.
Pergaulan yang memberi si perkasa menilai kelemahan dan kekuatannya.
Sekali lagi kekuatanmu ada pada karaktermu yang tegar.
Keberhasilanmu muncul dari makna hidup yang kau jalani.
Berani hidup……..berani salah……..berani menjadi yang paling benar.
Ingatlah……….bahwa semua yang kau alami hanya sebuah kesementaraan.
Temanmu yang terdekatlah yang paling dapat kau percaya………ya dia yang tidur bersamamu di peraduan yang kau sepakati bersama.
Si kecil…….yang kau sayang adalah cita-cita keberhasilanmu dalam berlayar di Samudra ini.
Berhasillah dengan sebuah kejujuran yang abadi……..
Wassalamu’alaikum
Husnan Bey Fananie
Bekasi, 25 Maret 2000
Perbedaan yang apa adanya
Perbedaan………..
Perbedaan atas sumber genetika………..
Perbedaan atas pola berfikir………..
Perbedaan atas pijakan kehidupan……………
Perbedaan atas sebuah keyakinan………….
Akan selalu menghasilkan perbedaan persepsi yang mendalam…………
Akan menghasilkan kedalaman substansi dari semua perbedaan yang ada…….
Akan mencanangkan sebuah kegiatan kreatif yang menuju pada substansi …….
Akan mencerahkan semua ketidak pahaman manusia yang memang berbeda-beda
Akan menjadikan semua mengerti bahwa perbedaan itu ada dan apa adanya.
Pria dan wanita………….
Besar dan Kecil…………..
Tua dan muda………….
Siang dan malam………..
Bagus dan buruk…………..dan semua apa adanya
Cinere, 12 Juni 2003
HUSNAN BEY FANANIE
Ainun ……ya Robb !
Ainun, kau Indah dalam ciptaan Robbun……
Robbun menciptakanmu untuk kesucian dan kepasrahan.
Ainun, kau pandai melihat kekurangan dan kelebihan bangsamu
yang mempunyai corak perspektif umat.
Ainun, agar kau tau, kau diberi hak untuk menilai semua yang
terlihat, ya……. terlihat dari setiap sisi mata jiwamu.
Pancaran cahaya Ilahi sering kau pakai untuk
melampiaskan nafsu yang kau bilang “super people”
Entah……… mata hati, mata dhomir,…… atau mata air got yang
menyirami setiap kuncup aroma “super taste” …. Sehingga
baunya pun tak sedap lagi.
Ainun …. ! sadarkah kau, ketika kau paksa air matamu ditelan
dalam rahim buatan Rabbun.
Ainun …. ! puaskah kau, ketika itu kau penuh dengan dusta
dan kerendahan.
Sekali lagi pembuangan terjadi pada setiap air mata yang kau
tanam dalam nafsu supermu.
Cahaya diatas Cahaya yang kau tau, tak kan lengah mematai
setiap langkah kemunafikanmu.
Redupkan bulu matamu dihadapanNya, tanpa kau harus
berfikir lagi untuk dinikmati dan selalu setia,
Ainun … lihat setiap langkah yang kau pijak, diatas Do’a
personil tubuhmu…………………………
Untukmu Ainun semoga kau diampuni.
Den Haag, 12 February 1995
Husnan Bey Fananie
IMAM
Sebuah kekuatan kekuasaan…………………………..
Sebuah symbol kebesaran……………………….
Sebuah wahana kepemimpinan………………………
Sebuah cahaya kesucian……………………..
Sebutan untuk seorang Imam…………………………
Kesadaran dari otak besar
Kesadaran atas urat-urat yang ada
Kesadaran atas semua jaringan dan peredaran darah
Menyatu dan menggerakkan kekuatan ide
Menyatu dan menggerakkan kekuatan kesolehan
Imam
Yang mendasari atas semua kepatuhan kepada Sang Penguasa Jagat Raya
Imam
Yang mendasari atas semua dinamika sebuah bangsa
Imam
Yang membimbing semua gerak dinamis dari Sang Penguasa
untuk Sang Penguasa
Imam
Yang memberi semua kepatuhan atas dasar-dasar kekuatan demokrasi, teokrasi tanpa batas-batas birokrasi
Bukan sekedar raja
Bukan sekedar pemimpin
Bukan sekedar presiden
Bukan sekedar preman yang berpakaian kepemimpinan
Bukan sekedar pemimpin yang berpakaian rok berbunga-bunga
Ketulusan yang tidak dimiliki oleh Sang Penguasa yang hanya memiliki tanah,
Ketulusan yang tidak dimiliki oleh Sang Penguasa yang sekedar memperbesar perut.
Ketulusan yang tidak dimiliki oleh siapapun yang merasa menjadi pemimpin setiap jengkal tanah di bumi
Ketulusan yang hanya dimiliki untuk dipersembahkan kepada Sang Penguasa Jagat Raya
Ketulusan yang hanya dimiliki ketika dihadapkan wajahnya di depan Sang Penguasa Jagat Raya
Imam
Dalam kesucian …………………….
Imam
Dalam ketulusan dan kekhusyuan …………………
Imam
Yang mencerminkan rasa dan jiwa yang bersatu dan hanya untuk satu
Jakarta, 8 Juli 2003
Husnan Bey Fananie
Mengapa harus Inong Bale…….?
Bunga Cempa itu tak terlihat cerah dan semerbak seperti biasanya.
Bunga Cempa itu tiba-tiba…….menghilang dihadapan semua mata yang biasa memandangnya.
Cantiknya tertutup dengan wajah lusuh, pucat tersirat kepedihan dan kepiluan.
Tak ada lagi harapan……tak ada lagi pekikan merdeka untuk Serambi Mekkah…..tak ada lagi wajah-wajah garang yang mengokang senjata……tak ada lagi dendam yang pernah ada……tak ada lagi yang ditinggalkan……dan tak ada lagi pemaksaan yang disengaja.
Bergetar……..bergetar……berbunyi lamban, dan mulai mengencang…….kencang, kencang…..kencang……dan mulai menggoyang…..goyang yang…….menghancur lantakkan…..mengangkat dan memutar lalu merubuhkan semua yang ada diatas bumi di atas atap…..dia atas tebing…..di atas menara dan di atas semua kebenaran dan semua keserakahan.
Gelombang yang tak pernah terlihat bagai lidah-lidah maha panjang, ombak dan air yang tak pernah sedahsyat itu. Menggulung dan dan meratakan setiap lorong-lorong dan lubang-lubang tikus sekalipun.
Bagaikan tumpukan laron-laron mati atau semut-semut hitam yang hanyut dibawa air………..tapi ternyata itu bukan laron, semut, lebah, kecoa atau sebangsanya.
Mereka adalah anak-anak negeri……..mereka adalah anak-anak negeri……mereka adalah anak-anak yang setiap sore ramai pergi ke Rangkang, Meanasah, Madrasah dan surau-surau kampung….mereka adalah anak-anak kita, mereka adalah saudara kita, mereka yang bertakbir dan berteriak La ILaha ILLaLLah…….mereka harus mati……mereka mati dengan meninggalkan kepedihan dan kesia-siaan….mereka diangkat oleh kekuatan tangis dan pedih orang tua mereka.
Allah menginginkannya dengan kebesaran dan kehendakNya…………………………
Tapi kenapa harus Serambi Mekkah……….tapi kenapa harus Bunga Cempa……….tapi kenapa harus Inong Bale??? Kenapa harus mereka??? Kenapa harus Darussalam, negeri damai……? Negeri yang penuh pesona dan sumber kekayaan?
Bukan dewa…….bukan desi…….bukan juga super power…….
Tapi Tuhan sedang menunjukkan kebesarannya………
Tapi Tuhan sedang bosan dengan keserakahan yang terjadi di Nangroe Aceh Darussalam, keserakahan, keangkuhan dan kesombongan kita sebagai orang-orang yang tahu.
Sekarang, hari ini, detik ini………bangkai-bangkai mayat manusia……..bukan laron-laron………mereka harus dikubur massal.
Kuburan-kuburanpun sudah tidak jelas lagi, mana Barat……mana Timur dan mana Kiiblat.
Tak ada lagi Serambi Mekkah yang ramah dengan kelaparan dan dirasakan oleh mereka yang selamat.
Sepi……..dingin dan tak berbaju,
Lapar…….haus dan tak tau harus kemana,
Luka-lukapun masih basah dan mulai membusuk,
Busuk bersama mayat-mayat yang terus bertambah setiap detiknya hingga saat ini.
Wahai saudara-saudaraku………………….
Apa yang bisa kita tafsirkan dari keinginan Allah yang begitu cepat dan maha dahsyat itu????
Apa yang bisa kita lakukan dari kepedihan dan kesulitan saudara-saudara kita yang selamat di Nangroe Aceh Darussalam?
Husnan Bey Fananie
Gandul-Gontor, 29 Desember 2004
Kabar Alam
Alam memberi kabar kepada manusia.
Alam memberi tahu tentang kemuakannya.
Alam menagih janji kepada apa saja yang pernah terjadi di atas, di dalam, di bawah dan di permukaannya.
Alampun ikut menangis dengan keinginan penciptanya.
Namun pedulikah manusia yang terhempas bagai kapas dan benang-benang kusut..?
Berlari, terkejut, berteriak, panik dan hilang termakan gulungan Lumpur.
Mereka tidak pernah mengerti, apa yang terjadi sebenarnya.
Mereka mengeringkan air mata dengan semua perasaan yang ada pada seluruh anak bangsa ini.
Kelam, kelabu dan pilu bercanda dengan hari-hari yang berjalan bersama alam.
Senyum-senyum derita tergambar dari setiap wajah yatim piatu, dan mereka yang ditinggal tenggelam bersama alam.
Pandangan kosong pun bercerita tentang masa depan diri dan alam itu sendiri.
Sekarang………..mereka dan kitapun mengerti tentang kabar apa yang diinginkan alam.
Husnan Bey Fananie
Jakarta, 30 Desember 2004
Aceh Tetap Serambi Mekkah
Sejarah Panjang dilalui dengan semangat kebebasan, semangat menjadi Negeri Damai “Darussalam”…………Serambi Mekkah.
Siapapun yang datang dengan warna kulit yang berbeda, dengan bahasa yang lain, dan dengan keyakinan asing, semua diterima sebagai tamu.
Aceh terproyeksikan untuk tetap dan selalu menjadi Serambi Mekkah yang damai dan sejahtera.
Aceh berdiri dengan tonggak dan pilar-pilar rencong yang terhunjam di atas tanah itu.
Tak peduli gempa………
Tak peduli ombak………
Tak peduli tsunami…….
Aceh akan tetap menjadi Serambi Mekkah.
Pancaran dan sorot semangat kebangkitan.
Aroma dan amisnya mayat-mayat korban tsunami, terkubur dan menjadi tonggak baru harapan hidup sekuat rencong-rencong tajam itu.
Kepekaan seluruh anak negeri memberi ikatan baru yang kuat, bahwa Aceh tetap “Darussalam”………….Serambi Mekkah.
Husnan Bey Fananie
Jakarta, 7 Januari 2005
Zakir………Generasi Tsunami
Meratap…….pedih…….dan kedinginan tanpa sehelai benangpun yang melekat, tersungkur di ujung jalan lorong sebuah pasar di Aceh Besar.
Masih terlihat luka menganga di betis dan dagunya yang khas Aceh peranakan.
Sepekan gempa dan tsunami berlalu menelan rumah, orang tua, serta saudara-saudaranya.
Getaran masih terasa oleh Zakir, anak yang seakan lahir dari perut tsunami.
Za…….kir……….pak, dia menjawab pelan pertanyaan yang terlontar dari seorang prajurit TNI yang menemukannya di Lorong pasar itu.
Hilang semua yang dicintainya……..
Hilang semua orang yang menjadikannya seorang anak Aceh…….
Hilang semua harapan yang pernah ada……….
Zakir yang malang, memberi berbagai rasa bagi semua yang hidup di atas negeri ini.
Zakir yang tidak mengerti, memaksa kita untuk memahaminya, bahwa sesuatu telah dan sedang terjadi.
Zakir dan ribuan anak-anak Aceh lainnya, lahir sebagai generasi tsunami.
Ribuan generasi tsunami, membawa derita untuk harapan ribuan tahun sebuah negeri.
Husnan Bey Fananie
Jakarta, 20 Januari 2005
Kesaksian Anak Negeri……!
Pergolakan yang terjadi bukan hanya permainan mata atau telinga,
Perumpamaan yang dibuat bukan berbentuk puisi-puisi indah,
Cerita yang dibaca tidak hanya sekedar pengantar si Buyung tidur,
Terbuai-buai di waktu kecil terubah tidak di waktu senja………
Sepasang angsa putih di kolam istana, terbelengu, tak kuasa, bahkan harus menangis untuk bercinta dan bertelur.
Ratapan pengemis di luar pagar tak tergubris untuk mengais nasi,
Prahara dunia tergambar dalam batas-batas sempit kekerdilan berfikir.
Rayuan pulau kelapa tak sanggup menegakkan benang basah yang terendam oli……..itupun masih dikatakan benar dan demokratis.
Sebuah kebenaran hakiki teruji dengan gambaran ideologis yang tegas dan jelas.
Tak sanggup mereka mengatakan pedih walau berpuluh tahun terbelengu oleh tirani.
Kebenaran itu selalu sulit untuk dikatakan dengan jargon-jargon sungsang dan memualkan.
Tatapan, ratapan, dan harapan………menghiasi hari-hari mereka yang menanti sebuah ketetapan, kejelasan, dan keabsahan.
Hari-hari itu telah lewat……….
Tatapan itu mulai meredup………..
Ratapan yang mengenaskan telah pergi walau belum hilang……….
Harapan pun berpijar tanpa penghalang yang menakutkan………
Satu persatu mereka tersenyum,……..satu persatu mereka menghela nafas,…….satu persatu mereka berucap syukur,……..satu persatu mereka menanti perubahan,…….satu persatu mereka menyaksikan perubahan-perubahan,………..dan satu persatu mereka dituggu untuk menjelaskan perubahan itu yang dahsyat, yang disaksikan dunia dan mereka sendiri………..sebagai anak negeri.
Widyachandra, 10 Agustus 2001
HB. Fananie
3 Komentar Add your own
Tinggalkan Balasan
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed
1.
Helmi Hidayat | November 19, 2008 pada 6:19 pm
Masukan buat puisi ente yang pertama, mestinya bukan SILATURAHMI, tapi SILATURAHIM. Al-rahm artinya ”marodul batn” (penyakit perut). Ente bayangkan apa artinya ”silaturahmi” hehehehehe …….
Helmi Hidayat
Penggemar puisi
2.
saiful mujib | Februari 7, 2009 pada 5:19 pm
jagoan-jagoan
yang berpuisi, yang berhati
3.
Kholil Sukatma | September 23, 2010 pada 6:58 pm
kapan-kapan ta’ sunting untuk acara tertentu, Siip……..